Senin, 08 September 2014

ADAP BERTEMAN DAN MENJAGA LISAN

ADAP BERTEMAN DAN MENJAGA LISAN

Kata-kata yang manis memang terbukti bisa
menghipnotis manusia. Ia bisa menghanyutkan manusia
dalam buaiannya. Pendapat ini bertitik tolak pada fitrah
manusia yang selalu ingin dihargai atau bahkan dipuji.
Tutur kata yang manis juga bisa memotivasi orang lain
untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan
mungkar.

Sebuah kritikan yang tajam, namun dibungkus dengan
tutur kata yang halus lebih bisa diterima oleh orang yang
dikritik. Dan sebaliknya, penyampaian dakwah kebenaran
secara vulgar dan kasar kepada umat manusia
terkadang akan berakibat sebaliknya. Metode tersebut
tidak hanya kurang efektif, bahkan bisa memunculkan
sikap antipati dari objek dakwah. Allah memberikan
dalam kelembutan sesuatu yang tidak diberikanNya
dalam kekerasan.

Inti dakwah Islam adalah saling nasihat menasihati,
nasihat bagi Allah, Rasulullah, para pemimpin, dan kaum
muslimin. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Tolonglah
saudaramu yang zhalim dan dizhalimi." Dan cara
menolong saudara yang zhalim adalah menasihatinya
agar tidak melakukan kezhaliman dan kemungkaran.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮِّﻓْﻖَ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻓِﻲ ﺷَﻲْﺀٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺯَﺍﻧَﻪُ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻨْﺰَﻉُ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺷَﺎﻧَﻪُ.
"Sesungguhnya kelembutan, tidaklah terdapat pada
sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia
terlepas dari sesuatu melainkan ia akan menodainya." (HR.
Muslim).

ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠﻪ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻟِﻴَﺼْﻤُﺖْ .
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. al-
Bukhari dan Muslim).

Dan kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari: Dari
Sahal bin Sa'ad Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,
ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦُ ﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻟَﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ.
"Barangsiapa yang memberikan jaminan kepadaku (untuk
menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua tulang
rahangnya, dan kejahatan kemaluan yang berada di antara
kedua kakinya, niscaya aku akan memberikan jaminan
surga kepadanya." (HR. al-Bukhari).

Dan kami meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud
Radhiyallahu ‘anhu , dia berkata, "Tidak ada sesuatu pun
yang lebih berhak lama dipenjarakan daripada lisan."
Dan yang lainnya berkata, "Perumpamaan lisan adalah
seperti hewan buas, apabila kamu tidak mengikatnya,
niscaya dia akan memusuhimu." Dan kami meriwayatkan
dari al-Ustadz Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam
Risalahnya yang terkenal, dia berkata, "Diam pada
sesuatu yang telah selamat adalah tindakan utama.
Sedangkan diam pada waktunya merupakan sifat (baik)
seseorang sebagaimana berbicara pada tempatnya
merupakan sebaik-baik tabiat." Dia melanjutkan, "Saya
mendengar Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah berkata,
ﻣَﻦْ ﺳَﻜَﺖَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻓَﻬُﻮَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﺃَﺧْﺮَﺱُ .
'Siapa yang berdiam diri dari kebenaran, maka dia adalah
setan yang bisu'."
Apabila Hari Kiamat tiba, maka perkataan dan perbuatan
seorang hamba telah dihitung. Tiba-tiba salah seorang
hamba mengingkari hal itu seraya berkata, "Wahai Rabb,
saya tidak melakukan ini, saya tidak mengatakan ini."
Maka malaikat yang menyaksikan hal itu berkata, "Aku
tidak menerima seseorang menjadi saksi selain diriku
sendiri." Lalu Allah menutup mulutnya, dan semua
anggota tubuhnya bersaksi dan memberikan kesaksian
perbuatannya. Tangan menuturkan sesuatu yang dia
kerjakan, kaki melaporkan perjalanannya, mata
memberikan kesaksian yang dia lihat, telinga
memberikan kesaksian yang didengarnya, dan kulit
memberikan kesaksian yang dirasakannya. Saat itulah
sang hamba berduka cita dan terkejut serta berkata
kepada anggota tubuhnya, "Celaka dan binasalah kalian,
karena kalianlah aku membela diri." Inilah anggota-
anggota tubuh yang tidak lain adalah anggota tubuhmu,
akan memberikan kesaksian atas kesalahanmu di Hari
Kiamat. Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﻳُﺤْﺸَﺮُ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻓَﻬُﻢْ ﻳُﻮﺯَﻋُﻮﻥَ. ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺅُﻭﻫَﺎ ﺷَﻬِﺪَ
ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺳَﻤْﻌُﻬُﻢْ ﻭَﺃَﺑْﺼَﺎﺭُﻫُﻢْ ﻭَﺟُﻠُﻮﺩُﻫُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ. ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟِﺠُﻠُﻮﺩِﻫِﻢْ ﻟِﻢَ
ﺷَﻬِﺪﺗُّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺃَﻧﻄَﻘَﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧﻄَﻖَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ
ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ. ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﺘِﺮُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﻬَﺪَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺳَﻤْﻌُﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭُﻛُﻢْ
ﻭَﻟَﺎ ﺟُﻠُﻮﺩُﻛُﻢْ ﻭَﻟَﻜِﻦ ﻇَﻨَﻨﺘُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻛَﺜِﻴﺮﺍً ﻣِّﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
"Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring
ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya).
Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran,
penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap
mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan
mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu
menjadi saksi terhadap kami.' Kulit mereka menjawab,
'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai
berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan
Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama,
dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan'. Kamu
sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian
pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu,
bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui
kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." (Fushshilat:
19-22)

Ketahuilah bahwa ghibah termasuk perbuatan yang
paling buruk dan paling tersebar di antara manusia,
sehingga mereka tidak selamat darinya melainkan hanya
segelintir orang saja. Batasan ghibah yaitu engkau
memperbincangkan saudaramu dengan sesuatu yang
jika hal itu didengar atau sampai ke telinganya, maka
dia merasa tidak senang, baik itu mengenai badan,
nasab, perilaku, perbuatan, ucapan atau dalam urusan
agamanya, bahkan sampai pakaian yang dia kenakan,
rumah tinggal, dan kendaraannya.
Di dalam Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-
Tirmidzi dan Sunan an-Nasa`i: dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
ﺃَﺗَﺪْﺭُﻭْﻥَ ﻣَﺎﺍﻟْﻐِﻴْﺒَﺔُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ، ﻗَﺎﻝَ : ﺫِﻛْﺮُﻙَ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ.
ﻗِﻴْﻞَ: ﺃَﻓَﺮَﺃَﻳْﺖَ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺃَﺧِﻲْ ﻣَﺎ ﺃَﻗُﻮْﻝُ؟ ﻗَﺎﻝَ: ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﻓَﻘَﺪِ
ﺍﻏْﺘَﺒْﺘَﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮْﻝُ ﻓَﻘَﺪْ ﺑَﻬَﺘَّﻪُ.
"Apakah kalian mengetahui, apakah ghibah itu?" Mereka
menjawab, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui." Beliau
bersabda, "Kamu menyebutkan tentang saudaramu dengan
sesuatu yang tidak disenanginya." Dikatakan kepada
beliau, "Bagaimana pendapatmu bila pada saudaraku
memang benar ada yang aku ucapkan?" Beliau bersabda,
"Jika pada dirinya benar ada yang kamu ucapkan, maka
kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, dan jika pada
dirinya tidak terdapat sesuatu yang kamu ucapkan, maka
kamu telah melakukan tuduhan dusta terhadapnya." (HR.
Muslim).

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang
jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk
dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu
minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa
jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi.
Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan
membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya
bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa
teman dapat memberikan pengaruh negatif ataupun positif
sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam menyerupakan teman bergaul atau teman
duduk yang baik dengan penjual minyak wangi. Bila duduk
dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari
tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits. Paling
minimnya engkau dapati darinya bau yang harum yang akan
memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh dan pakaianmu.
Sementara kawan yang jelek diserupakan dengan duduk di
dekat pandai besi. Bisa jadi beterbangan percikan apinya
hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau
mencium bau tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh
dan pakaianmu.

0 komentar:

Posting Komentar